Lokon





Selimut pagi di antara debudebu lokon, dingin yang membisu memeluk detakdetak manado, asap menyeruak mengangkasa, tertiup angin membadai hinggapi jendela hatiku.

Hati yang membiru di sela pilu dan rindu, rindu akan semilir dawai pengemis malalayang, yang berlari dari ketakutan yang meraga, pilu akan beberapa kenang, yang hilang karena debu yang mematikan.

Sementara, letupan kecil masih terlihat dari celah jendela kamarku, letupan yang seakan marah, mengancam setiap lagulagu kedamaian, beberapa orang masih saja berlari, beberapa meninakan harapannya sendirisendiri.

-14/9/2014 kaki gunung lokon, manado, sulawesi utara.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cokek di rumah kawin

Sejuta puisi

Preman selebritis dari tahun ke tahun